Terungkap, Mantan Bos WhatsApp Menyesal Jual Aplikasinya ke Facebook

Mantan Chief Business Officer WhatsApp Neeraj Arora mengaku menyayangkan penjualan aplikasinya ke Facebook dengan biaya US$22 miliar atau setara Rp273,68 triliun.

Arora mengungkapkan pengakuannya melalui thread di Twitter hari ini, Kamis (5/5/2022). Dia menjelaskan bagaimana WhatsApp, yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg, menyimpang dari jalur yang dibayangkan oleh para pendirinya setelah diakuisisi oleh Facebook.

“Pada tahun 2014 saya adalah Chief Business Officer WhatsApp. Dan saya membantu menegosiasikan penjualan $22 miliar ke Facebook. Hari ini aku menyesalinya. Ada yang tidak beres di sini,” cuit Arora.
BACA JUGA: Seorang Pria Menginjak Al-Qur’an dan Menantang Umat Islam

Menurut Arora, pada saat akuisisi, tim pendiri WhatsApp memiliki tiga tuntutan utama untuk masa depan layanan: tidak ada data pengguna untuk ditambang, tidak ada iklan, dan tidak ada pelacakan lintas platform.

Arora berbicara tentang bagaimana model bisnis WhatsApp seharusnya menjadi biaya tahunan hanya $1 untuk penggunaan layanan tanpa batas. Permintaan itu dikabulkan saat itu.

Menurutnya, Facebook pertama kali mendekati WhatsApp pada tahun 2014 untuk akuisisi dan membuatnya tampak seperti kemitraan dengan menawarkan dukungan penuh untuk enkripsi ujung ke ujung, tidak ada iklan di platform, kemandirian penuh dalam keputusan produk, dan kursi dewan untuk Jan Koum, serta kantornya sendiri dengan pemandangan gunung.

Arora mengklaim WhatsApp akhirnya mempertimbangkan tawaran Facebook hingga 2018, ketika ia dan salah satu pendiri Jan Koum meninggalkan WhatsApp.
BACA JUGA: 12 Tombol Rahasia WhatsApp Agar Lebih Efektif

Sebelumnya, Brian Acton yang juga pendiri perusahaan itu meninggalkan WhatsApp pada 2017 karena hubungan yang renggang dengan Zuckerberg.

Waktunya juga sama dengan skandal Cambridge Analytica. Dalam tweet tersebut, Arora mereferensikan tweet Brian Acton pada saat itu: “Hapus Facebook.”

“Saat ini, WhatsApp adalah platform terbesar kedua di Facebook (lebih besar dari Instagram atau FB Messenger). Tapi itu tetap menjadi produk yang kami dedikasikan dan ingin kami bangun untuk dunia. Saya bukan satu-satunya yang menyesal menjadi bagian dari Facebook ketika itu terjadi,” cuit Acton.

Sumber :