Remaja Kecanduan Game Online, Bagus atau Buruk? Berikut penjelasannya

Psikolog Klinis Departemen Psikologi Atma Jaya Unika Nanda Rossalia mengatakan, ada beberapa hal positif dari remaja yang bermain game online.

Salah satunya menyangkut kompetensi.

Menurutnya, remaja menganggap bermain game untuk menunjukkan kompetensinya.

Dia mengatakan ketika mereka memenangkan pertandingan mereka bisa merasa kuat dan kompeten.

“Tidak seperti di dunia nyata, nilaiku buruk. Sesuai dengan karakteristik remaja, dia ingin membangun karena nantinya bermanfaat untuk kepercayaan dirinya,” ujarnya dalam webinar Pemuda dan Gadget (KGSB) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Berbagi Satkaara, Sabtu (14/14/). 2020 5).

Menurut Nanda, bermain game online memberikan kesempatan dan kebebasan kepada remaja untuk memilih dan mengambil keputusan atau langkah yang perlu diambil.

Di sisi lain, game online mampu mengisi kebutuhan untuk berinteraksi, terhubung, dan menarik perhatian orang lain yang mungkin tidak didapatkan remaja di dunia nyata.

“Karena game online dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka tidak heran jika remaja terlambat. ‘Di sini saya diterima. Itu kompetensi saya’. (Game online) bisa menghadirkan rasa nyaman dan persahabatan,” ujar Nanda.

Jadi, apakah setiap gamer harus kecanduan?

Nanda mengatakan hal itu terkait dengan faktor kerentanan.

Ada orang yang rentan sehingga bisa menjadi kecanduan.

Biasanya, mereka adalah orang-orang yang memiliki keyakinan dalam mengendalikan tindakan mereka.

Selain itu, kata dia, orang tua bisa mengedukasi diri sendiri tentang apa yang terjadi saat bermain game online secara berlebihan.

Nanda menekankan pentingnya diskusi di sini, yang harus berbeda dari biasanya.

“Orang tua secara aktif dan pasif memantau aktivitas anak saat bermain game online. Ini meningkatkan keterlibatan orang tua,” saran Nanda. (antara/jpnn)

Sumber :