Link Keluar Berdampak Buruk Bagi Website?

Link Keluar Berdampak Buruk Bagi Website?

Link Keluar Berdampak Buruk Bagi Website?

Banyak Blogger dan pemilik website yang takut memasang link keluar atau outbond link atau external link.

Karena menurut pemilik tersebut memasang link ke website lain akan berdampak buruk terhadap SEO karena berarti membagi-bagikan PageRank kita untuk website tersebut dan ujungnya website kita buruk di mata Google.

Benarkah demikian? Apakah anda sebaiknya menghindari memasang outbound link di blog?

Ada 2 tipe orang yang takut dengan external link:

  1. Sama sekali anti memasang live link (link yang bisa diklik) menuju website luar
  2. Kadang memasang live link tetapi wajib diberikan rel=”nofollow”

Untuk menjelaskan kepada masing-masing tipe orang ini, saya perlu menjelaskan konsep web.

Konsep web pada WEBsite

Internet digambarkan seperti sebuah jaring laba-laba yang besar, karena itu setiap situs diberi istilah website.

Mengapa web? Karena semua website ini saling menghubungkan satu sama lain. Website A menghubungkan ke Website B, B menghubungkan ke C, C menghubungkan ke D, dan seterusnya.

Satu website juga menghubungkan ke dua atau lebih website lain, dan pada akhirnya website tersebut juga akan dihubungkan oleh website lainnya.

Dengan saling menghubungkan satu sama lain, semua website yang terhubung dalam jaringan ini bisa ditemukan. Itulah yang mendasari mesin pencari Google yang bekerja dengan memanfaatkan hubungan-hubungan atau link ini.

Sekarang karena kita sudah memahami cara kerja website dan internet yang saling bergantung satu sama lain. Kalau kita berlogika, apakah Google akan memberi cap buruk kepada website yang memberikan link ke website lain?

Tidak. Kalau Google menilai buruk website yang memasang link, maka konsep WEB akan mati karena semua orang takut memasang link.

Nofollow dan (do)follow

Ada dua tipe link untuk HTML, normal dan nofollow. Yang normal ini sering disebut dofollow.

Dalam ilmu SEO, link bekerja seperti voting atau rekomendasi. Website yang mendapat vote atau rekomendasi dari website lain yang punya “nama baik”, poinnya akan bertambah. Poin ini yang menentukan peringkat website di hasil pencarian.

(Link bukan satu-satunya yang memberikan poin, tapi kali ini kita hanya bahas link)

Berikut ini saya kutip dari panduan Google tentang link nofollow:

How does Google handle nofollowed links?

In general, we don’t follow them. This means that Google does not transfer PageRank or anchor text across these links.

Kalau saya permudah bahasanya, berarti Google tidak memberikan “poin” untuk website dalam link yang nofollow. Nofollow diciptakan agar website kita tidak mendapatkan serangan spam dari orang-orang yang ingin mendapatkan poin untuk websitenya.

Jadi kapan kita harus menggunakan nofollow, dan kapan kita tidak perlu menggunakan nofollow?

  1. Nofollow – kalau link dibuat oleh user lain selain pemilik website (umumnya di situs komunitas)
  2. Nofollow – untuk link komentar di blog
  3. Nofollow – link iklan berbayar
  4. Dofollow – untuk website yang kita percaya
  5. Dofollow – untuk website yang kita pakai sebagai acuan konten
  6. Dofollow – link internal
  7. Dofollow – semua link yang kita pasang sendiri

Jadi untuk artikel yang anda pasang di blog, tidak perlu capek-capek memasang tag nofollow. Malah sebaiknya anda jangan atur supaya nofollow. Ini alasannya:

Link keluar justru berdampak positif?

Ternyata fakta yang ada justru bertentangan dengan pendapat yang bertebaran di situs-situs komunitas. Link keluar malah berdampak positif untuk SEO.

Sejak munculnya update Panda 4.1, John Mueller, Google Webmaster Trends Analyst menyatakan bahwa adanya outbound link justru meningkatkan kualitas website anda.

Link keluar yang dimaksud adalah kalau anda menggunakan website lain yang terpercaya sebagai sumber konten anda, atau konten di website lain yang anda ingin pengunjung anda membacanya juga.

Misalnya seperti yang saya lakukan barusan, saya memasang link ke website yang saya kutip.

Logikanya sederhana, kalau anda mengutip pernyataan dari website yang terpercaya, berarti konten anda juga terpercaya. Seperti penelitian ilmiah di jaman kuliah, tentunya anda perlu mengutip penelitian lain supaya penelitian anda sendiri dipercaya.

Menurut mereka, memasang link ke website lain akan berdampak buruk terhadap SEO karena berarti membagi-bagikan PageRank kita untuk website tersebut dan ujungnya website kita buruk di mata Google.

Benarkah demikian? Apakah anda sebaiknya menghindari memasang outbound link di blog?

Ada 2 tipe orang yang takut dengan external link:

  1. Sama sekali anti memasang live link (link yang bisa diklik) menuju website luar
  2. Kadang memasang live link tetapi wajib diberikan rel=”nofollow”

Untuk menjelaskan kepada masing-masing tipe orang ini, saya perlu menjelaskan konsep web.

Konsep web pada WEBsite

Internet digambarkan seperti sebuah jaring laba-laba yang besar, karena itu setiap situs diberi istilah website.

Mengapa web? Karena semua website ini saling menghubungkan satu sama lain. Website A menghubungkan ke Website B, B menghubungkan ke C, C menghubungkan ke D, dan seterusnya.

Satu website juga menghubungkan ke dua atau lebih website lain, dan pada akhirnya website tersebut juga akan dihubungkan oleh website lainnya.

Dengan saling menghubungkan satu sama lain, semua website yang terhubung dalam jaringan ini bisa ditemukan. Itulah yang mendasari mesin pencari Google yang bekerja dengan memanfaatkan hubungan-hubungan atau link ini.

Sekarang karena kita sudah memahami cara kerja website dan internet yang saling bergantung satu sama lain. Kalau kita berlogika, apakah Google akan memberi cap buruk kepada website yang memberikan link ke website lain?

Tidak. Kalau Google menilai buruk website yang memasang link, maka konsep WEB akan mati karena semua orang takut memasang link.

Nofollow dan (do)follow

Ada dua tipe link untuk HTML, normal dan nofollow. Yang normal ini sering disebut dofollow.

Dalam ilmu SEO, link bekerja seperti voting atau rekomendasi. Website yang mendapat vote atau rekomendasi dari website lain yang punya “nama baik”, poinnya akan bertambah. Poin ini yang menentukan peringkat website di hasil pencarian.

(Link bukan satu-satunya yang memberikan poin, tapi kali ini kita hanya bahas link)

Berikut ini saya kutip dari panduan Google tentang link nofollow:

How does Google handle nofollowed links?

In general, we don’t follow them. This means that Google does not transfer PageRank or anchor text across these links.

Kalau saya permudah bahasanya, berarti Google tidak memberikan “poin” untuk website dalam link yang nofollow. Nofollow diciptakan agar website kita tidak mendapatkan serangan spam dari orang-orang yang ingin mendapatkan poin untuk websitenya.

Jadi kapan kita harus menggunakan nofollow, dan kapan kita tidak perlu menggunakan nofollow?

  1. Nofollow – kalau link dibuat oleh user lain selain pemilik website (umumnya di situs komunitas)
  2. Nofollow – untuk link komentar di blog
  3. Nofollow – link iklan berbayar
  4. Dofollow – untuk website yang kita percaya
  5. Dofollow – untuk website yang kita pakai sebagai acuan konten
  6. Dofollow – link internal
  7. Dofollow – semua link yang kita pasang sendiri

Jadi untuk artikel yang anda pasang di blog, tidak perlu capek-capek memasang tag nofollow. Malah sebaiknya anda jangan atur supaya nofollow. Ini alasannya:

Link keluar justru berdampak positif?

Ternyata fakta yang ada justru bertentangan dengan pendapat yang bertebaran di situs-situs komunitas. Link keluar malah berdampak positif untuk SEO.

Sejak munculnya update Panda 4.1, John Mueller, Google Webmaster Trends Analyst menyatakan bahwa adanya outbound link justru meningkatkan kualitas website anda.

Link keluar yang dimaksud adalah kalau anda menggunakan website lain yang terpercaya sebagai sumber konten anda, atau konten di website lain yang anda ingin pengunjung anda membacanya juga.

Misalnya seperti yang saya lakukan barusan, saya memasang link ke website yang saya kutip.

Logikanya sederhana, kalau anda mengutip pernyataan dari website yang terpercaya, berarti konten anda juga terpercaya. Seperti penelitian ilmiah di jaman kuliah, tentunya anda perlu mengutip penelitian lain supaya penelitian anda sendiri dipercaya.


Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat